Rabu, 18 April 2012

Pelajaran dari UN


Tulisan ini aku tulis malam hari sesudah menjalankan tugas mengajar privat matematika. Mungkin banyak kekurangannya. Tapi, inilah sedikit dari usaha ku. (1) usaha untuk belajar menulis; (2) usaha untuk belajar menjadi mahasiswa calon pendidik yang kritis, solutif, dan peka terhadap lingkungan; (3) usaha untuk mengisi blog yang masih kosong.. :D hehehehe

17th April 2012
Hari ini, hari yang sangat....hmmm, bagaimana mendiskripasikannya ya. Hari ini hari terakhir ngelesin adek-adek kelas 3 SMA. Dan besok dia sudah harus menempuh UN untuk mata pelajaran matematika. Heuuuu, bisa dibayangkan, bagaimana rieuweh dan kacaunya diri saya! Sebenarnya memang dia yang mau ujian besok. Tapi tetap saja, saya sebagai tentor privatnya, juga merasa sangat terbebani. Manakala dia tidak bisa mengerjakan soal dan nilainya kurang, itu akan menjadi beban dan PR tersendiri buat saya. Nah, beda lagi kalau dia berhasil mengerjakan soal, dan mendapat nilai yang bagus, pasti menjadi rasa kebanggaan tersendiri untuk saya. J
Hari ini, saya mengajar selama hampir 3 jam. Sejak pukul 7.20an sampai sekitar pukul 22.30an. Sebuah reli yang cukup panjang. Tapi, waktu selama itu samasekali tidak terasa. Ya, jelas, karena besok sudah harus UN. Dan kita masih mengejar banyak target. Benar-benar seperti kejar-kejaran dengan kereta api. Pikiran dan energi sukup terkuras, walaupun kita tidak habis berolahraga. Tapi, rasa dan sensasinya itu, sama. Ditambah dengan sensasi deg-degannya. :D
Yahhh, banyak pelajaran yang bisa dipetik sebenarnya dari pengalaman malam ini. Hanya ingin berbagi saja. Dari berbagi sudut pandang, atau kita memposisikan diri menjadi siapa pengalaman ini memberi bahan renungan untuk kita pikirkan dan diskusikan. Ambil yang pertama posisi kita sebagai seorang PELAJAR (yang menerima input). Kita bisa belajar, (1) belajar tidak hanya ketika jelang UJIAN saja. Kita harus selalu belajar secara kontinu. Ya, walaupun memang, ngomong itu lebih mudah daripada melaksanakan. Tapi, faktanya memang seperti itu. saya sendiri juga masih sulit sekali melaksanakan hal ini. Sepertinya, kita perlu menDELETE istilah SKS dari kamus para pelajar di Indonesia. Agar mereka tidak lagi mengenal yang namanya SKS atau Sistem Kebut Semalam. (2) Bertanyalah segera jika kamu tidak memahami materi yang dijelaskan. Seringkali, kita menumpuk pertanyaan daalam benak dan pikiran kita. Saat guru atau dosen menawarkan, “siapa yang mau bertanya?”, “ada pertanyaan?”, “ada yang belum jelas?”. Hampir 99% dari kita pasti akan diam saja jika disodori pertanyaan seperti ini. Entahlah, ada banyak alasan sebenarnya, bisa jadi kita diam karena kita sudah benar-benar paham dengan materi (ini bagus), atau justru kita sama sekali tidak memahami apa yang dijelaskan sehingga kita juga tidak mengerti apa yan g harus ditanyakan. Penyebab lain biasanya adalah karena malu pada teman-temannya jika DIANGGAP tidak bisa, atau malu pada dosen. Entahlah, mana definisi dari kediaman kita selama ini. Tetapi, kalau untuk saya, biasanya adalah karena alasan yang kedua! (nahhh loooo!!!) yap, karena itulah saya membuat catatan ini, agar dapat menjadi bahan evaluasi bagi saya, agar saya tidak menunda bertanya jika memang tidak memahami materi. Efek dari menunda ini adalah, semakin banyak materi yang tidak kita pahami, padahal bisa jadi (kalau di matematika, seringkali) materi yang satu itu saling terkait dengan materi yang lainnya. Materi yang tidak kita pahami itu terkait dengan materi sesudahnya. Kalau kita tidak bisa memahami materi prasyaratnya, bagaimana kita bisa memhami materi selanjutnya? (am i right? J) (3) Banyak membaca atau mengerjakan soal (terutama untuk mata pelajaran/kuliah yang membutuhkan latihan). Ini penting niiii. Seringakali, kita hanya CUKUP PUAS dengan teori dari materi yang kita pelajari. Kita merasa sudah paham, dan kita berhenti belajar. Padahal, parameter kita sudah memahami materi atau belum itu terletak pada kita bisa mengaplikasikannya dalam latihan soal. Jadi, mengerjakan soal latihan adalah alat untuk mengukur sejauh mana kita memahai materi tersebut dan mampu mengaplikasikannya. Kalau dalam ilmu non eksak, saya kurang memahami hal ini. Ya, mungkin penerapannya adalah apakah kita mampu menyelesaikan permasalahan yang terjadi dengan teori yang sudah kita miliki (agak hampir mirip deh ya intinya? J ). Jadi, kata yang sering menjadi jargon dalam hal ini adalah (saya dapatkan saat SMP kelas 3) “Practise makes Perfect”!
Nah, kalau dari sudut pandang pelajar/si penerima input kira-kira itu si. Walaupun masih banyak juga pelajaran yang lain yang bisa diambil. Tapi inti utamanya adalah ketiga hal tersebut kalau dari pengkajian saya. J
Oke, selanjutnya, kita akan mencoba memposisikan diri kita sebagai seorang GURU (pemberi input) atau apapun namanya kita suka sebut. Pelajaran apa si yang bisa kita ambil? Ya, meskipun saya belum benar-benar menjadi guru, tapi setidaknya saya adalah calon guru dimasa depan dan menjadi tentor privat walau hanya sesaat, bisa juga kan disebut guru kan ? (:D) dan saya berkewajiban memahami, mengkritisi, dan mencari solusi jika memang terjadi “SESUATU” dengan dunia pendidikan kita. Yap, kita langsung saja. Sebagai seorang guru, berikut adalah beberapa “IBRAH” yang bisa kita ambil. (1) sudah benarkah metode mengajar kita selama ini? Yap, pertanyaan itu patut kita ajukan (untuk diri kita sendiri tentu saja). Kenapa? Sampai saat menjelang UN (beberapa menit saja), ternyata ada banyak materi yang belum dipahami oleh murid kita? Apa sebenarnya yang salah? Mencoba menghibur diri dengan menyalahkan murid kita “salah siapa tidak belajar”, “kalian kurang latihan sii”. “saya sudah menjelaskan sedemikian rupa, dengan berbagai metode dan cara, tapi dasarnya mereka yang tidak pernah belajar dan malas. Dasarnya mereka yang bod*h” . Nah, bukannya itu tugas kita? Bukannya itu menjadi tanggungjawab kita? Bagaimana membuat mereka yang beul mengerti menjadi mengerti, bagaimana membuat mereka yang belum paham menjadi paham, dan bagaimana membuat mereka yang tidak mau belajar menjadi mau! (berat kah? Iya memang kok J). Itulah tugas kita kawan sebagai seoarang Guru. (oke, untuk yang ketiga ini saya rasa tidak pas kalau diterapkan oleh dosen untuk mahasiswa, karena mahasiswa seharusnya sudah memasuki taraf melakukan sesuatu tanpa disuruh. Right?) Itulah kawan, PR BESAR kita, para guru, calaon guru, atau yang lebih keren adalah para pendidik dan caoln pendidik, para pencetak dan calon pencetak kader bangsa!!! (2) sudahkah kita memahami GOAL dari pendidikan kita?  Apa yang ingin diraih dari penyelenggaraan pendidikan yang ada selama ini. Wahhh. Kalau sudah masuk tahapan ini, bisa panjang ni bahasannya. Masalah ini, bisa merembet ke Pemerintah atau pihak pengambil kebijakan terkait dengan pendidikan. Tapi, kita tidak akan membahasnya disini. Nanti, ada bagiannya tersendiri. J yahhh, bagaimana ya menuliskannya? Jadi, sebagai guru alangkah baiknya kalau kita memahami, ketika kita menjelaskan materi, sebenarnya apa si yang kita mau dari mereka. Apa si yang kita ingin mereka bisa lakukan (nah, kalau seperti ini kan tidak terlalu panjang cakupannya). Kebanyakan dari murid, itu tidak memahami, sebenarnya, apa si yang harus saya lakukan. Sebenarnya, dari materi ini, saya diharapkan untuk apa si? Dengan adanya deskripsi dan tujan yang jelas dari setiap kegiatan pembelajarn yang kita lakukan, maka murid pun akan paham apa tugas yang mereka harus lakukan dan selesaikan (catat, selesaikan!) ah. Jadi poin keduanya mungkin dapat kita ganti, apakah kita sudah memahami dan membuat murid kita paham apa tujuan dari setiap kegiatan pembelajaran yang kita lakukan. Nahhh, that’s it!!!
Sepertinya, dari guru itulah poin-poin utamanya. Silahkan teman-teman dapat merumuskan sendiri, apa-apa saja yang masih menjasdi PR untuk para guru maupun calon guru di Indonesia. J
Selanjutnya, kita akan mencoba memposisikan diri kits sebagai pemerintah/pengambil kebijakan dibidang pendidikan (wiiiiyyyyyy, ngeri niiii kayaknya. Ahhaha :D). Sebagai pemerintah, berikut adalah apa yang saya tangkap dari kejadian yang saya alami malam ini. (1) Sudah benarkah kurikulum  pendidikan yang kita miliki? Sudah seimbangkah antara input yang ada (kita berikan) dengan apa yang kita harapkan? Wah, Kalau bagian ini, saya belum mempunyai kapasitas untuk membicarakannya terlampau jauh niii. Walaupun disini posisi saya sebagai pihak  pemerintah. (2) Sudah benarkah metode penilaian kemampuan yang dimiliki anak didik kita?. Ini masalah yang dilematis. Beratus bahkan sudah beribu artikel membahasnya. Banyak ahli dan pengamat pendidikan juga telah mencermati permasalahan ini. Tapi entah kenapa, sampai sekarang, solusinya masih tetap saja, seperti ini. Kadar kemampuan/kecerdasan anak didik hanya dipandang dari satu sisi saja, Intelektual quotient (IQ) atau kemampuan menjawab pertanyaan dari soal. Padahal, hampir sebagian besar orang tahu, kecerdasan seseorang tidak hanya diukur dari seberapa pintarnya dia didalam kelas. Itu memang penting, karena salah satu persyaratan dalam persaingan global adalah hal itu (kemampuan intelektual). Tapi, kecerdasan yang lainnya juga tidak bisa kita abaikan. Contohnya saja, dari sisi Emosional dan spiritual, belum lagi kinestik nya mungkin (untuk yang para olahragawan). UN, masih terlalu berpihak pada si pemilik kecerdasan intelektual saja. Tulisan ini sebenarnya bukan bermaksud untuk menghakimi pemerintah atau pihak pengambil kebijakan terkait pendidikan saja. Ini adalah sebagai wacana kita bersama. Apalagi, ketika menulis ini saya sedang memposisikan diri sebagai wakil dari pemerintah, itu artinya, hal-hal tersebut diatas juga menjadi PR bagi saya.
Thats are! Ternyata, kalau kita tulis dan rumuskan, begitu banyak dan complicated permasalahn yang kita hadapi dan harus selesaikan. Tulisan diatas, saya baru menempatkan posisi kedalam tiga hal saja. Saya sebagai peserta didik, saya sebagai guru, dan saya sebagai pemerintah.  Dari pengalaman ngelesin seorang anak  SMA, saya mendapat banyak hal yang bisa saya tulis dan share dengan kawan-kawan semua. Karena itu, marilah kawan, kita belajar, bagaimana menyelesaikan problematika-problematika yang ada tersebut. At least, dari problematika yang sudut pandang kita sebagai peserta didik terlebih dahulu. Selanjutnya, sebagai seorang calon pendidik, kita juga tidak ada salahnya untuk memikirkan, mengkritisi, dan memberi solusi ketika kita ada di posisi guru. Itulah kawan, PR Kita!!!

Selesai diketik 18th April 2012, 00:51 a.m
Diruang keluarga “Fathimah Az-Zahra”
Really Sleepy!!!!
Good Night, and LET’S SLEEP GUYS!!!

Selasa, 14 Februari 2012

Posting pertama

Alhamdulillah...,
akhirnya, aku bisa punya blog juga. hehe
walaupun masih ala kadarnya. yah....tak apalah untuk sebuah permulaan :)
Semoga blog ini nantinya dapat ku isi dengan tulisan-tulisan yang berkualitas dan bermanfaat untuk siapa saja yang membuka ataupun melihat blog ini.. ^^
Oh ya, saat pembuatan blog ini, aku sedang berada di kampus FIP Unnes tepatnya di kantor jurusan Psikologi. Dan dalam agenda sedang menunggu dosen untuk meminjam buku beliau.
dan tahukah kalian, aku sudah menunggu selama 1 jam hlooooo
dan, beliau tidak segera memberi kepastian-kepastian (menjawab sms ku).
Hiksssss.....