Tulisan ini aku tulis malam hari
sesudah menjalankan tugas mengajar privat matematika. Mungkin banyak
kekurangannya. Tapi, inilah sedikit dari usaha ku. (1) usaha untuk belajar
menulis; (2) usaha untuk belajar menjadi mahasiswa calon pendidik yang kritis,
solutif, dan peka terhadap lingkungan; (3) usaha untuk mengisi blog yang masih
kosong.. :D hehehehe
17th
April 2012
Hari
ini, hari yang sangat....hmmm, bagaimana mendiskripasikannya ya. Hari ini hari
terakhir ngelesin adek-adek kelas 3 SMA. Dan besok dia sudah harus menempuh UN
untuk mata pelajaran matematika. Heuuuu, bisa dibayangkan, bagaimana rieuweh
dan kacaunya diri saya! Sebenarnya memang dia yang mau ujian besok. Tapi tetap
saja, saya sebagai tentor privatnya, juga merasa sangat terbebani. Manakala dia
tidak bisa mengerjakan soal dan nilainya kurang, itu akan menjadi beban dan PR
tersendiri buat saya. Nah, beda lagi kalau dia berhasil mengerjakan soal, dan
mendapat nilai yang bagus, pasti menjadi rasa kebanggaan tersendiri untuk saya.
J
Hari
ini, saya mengajar selama hampir 3 jam. Sejak pukul 7.20an sampai sekitar pukul
22.30an. Sebuah reli yang cukup panjang. Tapi, waktu selama itu samasekali
tidak terasa. Ya, jelas, karena besok sudah harus UN. Dan kita masih mengejar
banyak target. Benar-benar seperti kejar-kejaran dengan kereta api. Pikiran dan
energi sukup terkuras, walaupun kita tidak habis berolahraga. Tapi, rasa dan
sensasinya itu, sama. Ditambah dengan sensasi deg-degannya. :D
Yahhh,
banyak pelajaran yang bisa dipetik sebenarnya dari pengalaman malam ini. Hanya
ingin berbagi saja. Dari berbagi sudut pandang, atau kita memposisikan diri
menjadi siapa pengalaman ini memberi bahan renungan untuk kita pikirkan dan
diskusikan. Ambil yang pertama posisi kita sebagai seorang PELAJAR (yang
menerima input). Kita bisa belajar, (1) belajar
tidak hanya ketika jelang UJIAN saja. Kita harus selalu belajar secara
kontinu. Ya, walaupun memang, ngomong itu lebih mudah daripada melaksanakan.
Tapi, faktanya memang seperti itu. saya sendiri juga masih sulit sekali
melaksanakan hal ini. Sepertinya, kita perlu menDELETE istilah SKS dari kamus
para pelajar di Indonesia. Agar mereka tidak lagi mengenal yang namanya SKS
atau Sistem Kebut Semalam. (2) Bertanyalah
segera jika kamu tidak memahami materi yang dijelaskan. Seringkali, kita
menumpuk pertanyaan daalam benak dan pikiran kita. Saat guru atau dosen
menawarkan, “siapa yang mau bertanya?”, “ada pertanyaan?”, “ada yang belum
jelas?”. Hampir 99% dari kita pasti akan diam saja jika disodori pertanyaan seperti
ini. Entahlah, ada banyak alasan sebenarnya, bisa jadi kita diam karena kita
sudah benar-benar paham dengan materi (ini bagus), atau justru kita sama sekali
tidak memahami apa yang dijelaskan sehingga kita juga tidak mengerti apa yan g
harus ditanyakan. Penyebab lain biasanya adalah karena malu pada teman-temannya
jika DIANGGAP tidak bisa, atau malu pada dosen. Entahlah, mana definisi dari
kediaman kita selama ini. Tetapi, kalau untuk saya, biasanya adalah karena
alasan yang kedua! (nahhh loooo!!!) yap, karena itulah saya membuat catatan
ini, agar dapat menjadi bahan evaluasi bagi saya, agar saya tidak menunda
bertanya jika memang tidak memahami materi. Efek dari menunda ini adalah,
semakin banyak materi yang tidak kita pahami, padahal bisa jadi (kalau di
matematika, seringkali) materi yang satu itu saling terkait dengan materi yang
lainnya. Materi yang tidak kita pahami itu terkait dengan materi sesudahnya.
Kalau kita tidak bisa memahami materi prasyaratnya, bagaimana kita bisa memhami
materi selanjutnya? (am i right? J) (3) Banyak
membaca atau mengerjakan soal (terutama untuk mata pelajaran/kuliah yang
membutuhkan latihan). Ini penting niiii. Seringakali, kita hanya CUKUP PUAS
dengan teori dari materi yang kita pelajari. Kita merasa sudah paham, dan kita
berhenti belajar. Padahal, parameter kita sudah memahami materi atau belum itu
terletak pada kita bisa mengaplikasikannya dalam latihan soal. Jadi,
mengerjakan soal latihan adalah alat untuk mengukur sejauh mana kita memahai
materi tersebut dan mampu mengaplikasikannya. Kalau dalam ilmu non eksak, saya
kurang memahami hal ini. Ya, mungkin penerapannya adalah apakah kita mampu
menyelesaikan permasalahan yang terjadi dengan teori yang sudah kita miliki
(agak hampir mirip deh ya intinya? J ). Jadi, kata yang sering menjadi jargon dalam hal
ini adalah (saya dapatkan saat SMP kelas 3) “Practise makes Perfect”!
Nah,
kalau dari sudut pandang pelajar/si penerima input kira-kira itu si. Walaupun
masih banyak juga pelajaran yang lain yang bisa diambil. Tapi inti utamanya
adalah ketiga hal tersebut kalau dari pengkajian saya. J
Oke,
selanjutnya, kita akan mencoba memposisikan diri kita sebagai seorang GURU
(pemberi input) atau apapun namanya kita suka sebut. Pelajaran apa si yang bisa
kita ambil? Ya, meskipun saya belum benar-benar menjadi guru, tapi setidaknya
saya adalah calon guru dimasa depan dan menjadi tentor privat walau hanya
sesaat, bisa juga kan disebut guru kan ? (:D) dan saya berkewajiban memahami,
mengkritisi, dan mencari solusi jika memang terjadi “SESUATU” dengan dunia
pendidikan kita. Yap, kita langsung saja. Sebagai seorang guru, berikut adalah
beberapa “IBRAH” yang bisa kita ambil. (1) sudah
benarkah metode mengajar kita selama ini? Yap, pertanyaan itu patut kita
ajukan (untuk diri kita sendiri tentu saja). Kenapa? Sampai saat menjelang UN
(beberapa menit saja), ternyata ada banyak materi yang belum dipahami oleh
murid kita? Apa sebenarnya yang salah? Mencoba menghibur diri dengan
menyalahkan murid kita “salah siapa tidak belajar”, “kalian kurang latihan
sii”. “saya sudah menjelaskan sedemikian rupa, dengan berbagai metode dan cara,
tapi dasarnya mereka yang tidak pernah belajar dan malas. Dasarnya mereka yang
bod*h” . Nah, bukannya itu tugas kita? Bukannya itu menjadi tanggungjawab kita?
Bagaimana membuat mereka yang beul mengerti menjadi mengerti, bagaimana membuat
mereka yang belum paham menjadi paham, dan bagaimana membuat mereka yang tidak
mau belajar menjadi mau! (berat kah? Iya memang kok J). Itulah tugas kita kawan sebagai seoarang Guru.
(oke, untuk yang ketiga ini saya rasa tidak pas kalau diterapkan oleh dosen
untuk mahasiswa, karena mahasiswa seharusnya sudah memasuki taraf melakukan
sesuatu tanpa disuruh. Right?) Itulah kawan, PR BESAR kita, para guru, calaon
guru, atau yang lebih keren adalah para pendidik dan caoln pendidik, para
pencetak dan calon pencetak kader bangsa!!! (2) sudahkah kita memahami GOAL dari pendidikan kita? Apa yang ingin diraih dari penyelenggaraan
pendidikan yang ada selama ini. Wahhh. Kalau sudah masuk tahapan ini, bisa panjang
ni bahasannya. Masalah ini, bisa merembet ke Pemerintah atau pihak pengambil
kebijakan terkait dengan pendidikan. Tapi, kita tidak akan membahasnya disini.
Nanti, ada bagiannya tersendiri. J yahhh, bagaimana ya menuliskannya? Jadi, sebagai
guru alangkah baiknya kalau kita memahami, ketika kita menjelaskan materi,
sebenarnya apa si yang kita mau dari mereka. Apa si yang kita ingin mereka bisa
lakukan (nah, kalau seperti ini kan tidak terlalu panjang cakupannya). Kebanyakan
dari murid, itu tidak memahami, sebenarnya, apa si yang harus saya lakukan.
Sebenarnya, dari materi ini, saya diharapkan untuk apa si? Dengan adanya
deskripsi dan tujan yang jelas dari setiap kegiatan pembelajarn yang kita
lakukan, maka murid pun akan paham apa tugas yang mereka harus lakukan dan
selesaikan (catat, selesaikan!) ah. Jadi poin keduanya mungkin dapat kita
ganti, apakah kita sudah memahami dan membuat murid kita paham apa tujuan dari
setiap kegiatan pembelajaran yang kita lakukan. Nahhh, that’s it!!!
Sepertinya,
dari guru itulah poin-poin utamanya. Silahkan teman-teman dapat merumuskan
sendiri, apa-apa saja yang masih menjasdi PR untuk para guru maupun calon guru
di Indonesia. J
Selanjutnya,
kita akan mencoba memposisikan diri kits sebagai pemerintah/pengambil kebijakan
dibidang pendidikan (wiiiiyyyyyy, ngeri niiii kayaknya. Ahhaha :D). Sebagai
pemerintah, berikut adalah apa yang saya tangkap dari kejadian yang saya alami
malam ini. (1) Sudah benarkah kurikulum pendidikan yang kita miliki? Sudah seimbangkah
antara input yang ada (kita berikan) dengan apa yang kita harapkan? Wah, Kalau
bagian ini, saya belum mempunyai kapasitas untuk membicarakannya terlampau jauh
niii. Walaupun disini posisi saya sebagai pihak
pemerintah. (2) Sudah benarkah
metode penilaian kemampuan yang dimiliki anak didik kita?. Ini masalah yang
dilematis. Beratus bahkan sudah beribu artikel membahasnya. Banyak ahli dan
pengamat pendidikan juga telah mencermati permasalahan ini. Tapi entah kenapa,
sampai sekarang, solusinya masih tetap saja, seperti ini. Kadar
kemampuan/kecerdasan anak didik hanya dipandang dari satu sisi saja,
Intelektual quotient (IQ) atau kemampuan menjawab pertanyaan dari soal.
Padahal, hampir sebagian besar orang tahu, kecerdasan seseorang tidak hanya
diukur dari seberapa pintarnya dia didalam kelas. Itu memang penting, karena
salah satu persyaratan dalam persaingan global adalah hal itu (kemampuan
intelektual). Tapi, kecerdasan yang lainnya juga tidak bisa kita abaikan.
Contohnya saja, dari sisi Emosional dan spiritual, belum lagi kinestik nya
mungkin (untuk yang para olahragawan). UN, masih terlalu berpihak pada si pemilik
kecerdasan intelektual saja. Tulisan ini sebenarnya bukan bermaksud untuk
menghakimi pemerintah atau pihak pengambil kebijakan terkait pendidikan saja. Ini
adalah sebagai wacana kita bersama. Apalagi, ketika menulis ini saya sedang memposisikan
diri sebagai wakil dari pemerintah, itu artinya, hal-hal tersebut diatas juga
menjadi PR bagi saya.
Thats
are! Ternyata, kalau kita tulis dan rumuskan, begitu banyak dan complicated permasalahn yang kita hadapi dan harus
selesaikan. Tulisan diatas, saya baru menempatkan posisi kedalam tiga hal saja.
Saya sebagai peserta didik, saya sebagai guru, dan saya sebagai pemerintah. Dari pengalaman ngelesin seorang anak SMA, saya mendapat banyak hal yang bisa saya
tulis dan share dengan kawan-kawan semua. Karena itu, marilah kawan, kita
belajar, bagaimana menyelesaikan problematika-problematika yang ada tersebut.
At least, dari problematika yang sudut pandang kita sebagai peserta didik terlebih
dahulu. Selanjutnya, sebagai seorang calon pendidik, kita juga tidak ada
salahnya untuk memikirkan, mengkritisi, dan memberi solusi ketika kita ada di
posisi guru. Itulah kawan, PR Kita!!!
Selesai diketik 18th April 2012,
00:51 a.m
Diruang keluarga “Fathimah Az-Zahra”
Really Sleepy!!!!
Good Night, and LET’S SLEEP
GUYS!!!